Halaman

Sabtu, 01 September 2012

Aspek Psikososial Pasien Gagal Ginjal

Oleh : Dr.Andri,SpKJ (Psikiater)
PENDAHULUAN
Secara global terdapat 200 kasus gangguan ginjal per sejuta penduduk. 8 juta di antara jumlah populasi yang mengalami gangguan ginjal berada dalam tahap gagal ginjal kronis. Penelitian sebelumnya mengatakan terdapat hubungan antara mengalami gagal ginjal dengan timbulnya gangguan psikiatri pada pasien (Cohen et al., 2004). Kondisi ini bisa terjadi pada kasus gagal ginjal akut maupun yang kronis.
Penyakit apapun yang berlangsung dalam kehidupan manusia dipersepsikan sebagai suatu penderitaan dan mempengaruhi kondisi psikologis dan sosial orang yang mengalaminya. Akan tetapi petugas kesehatan sering kali cenderung memisahkan aspek biologis dari aspek psikososial yang dialami pasien (Leung, 2002).
Aspek psikososial menjadi penting diperhatikan karena perjalanan penyakit yang kronis dan sering membuat pasien tidak ada harapan. Pasien sering mengalami ketakutan, frustasi dan timbul perasaan marah dalam dirinya. (Harvey S, 2007). Penelitian oleh para profesional di bidang penyakit ginjal menemukan bahwa lingkungan psikososial tempat pasien gagal ginjal tinggal mempengaruhi perjalanan penyakit dan kondisi fisik pasien (Leung, 2002).
Kondisi yang telah disebutkan di atas yang membuat salah satu tugas perawat dialisis sebelum melakukan prosedur hemodialisis kepada pasien disarankan untuk menilai status kesehatan jiwa pasien yang akan dihemodialisis (Hudson et al, 2005).
JENIS GANGGUAN JIWA
Depresi
Depresi adalah kondisi gangguan kejiwaan yang paling banyak ditemukan pada pasien gagal ginjal. Prevalensi depresi berat pada populasi umum adalah sekitar 1,1%-15% pada laki-laki dan 1,8%-23% pada wanita, namun pada pasien hemodialisis prevalensinya sekitar 20%-30% bahkan bisa mencapai 47%. Hubungan depresi dan mortalitas yang tinggi juga terdapat pasien-pasien yang menjalani hemodialisis jangka panjang (Chen et al. 2010). Kondisi afeksi yang negatif pada pasien gagal ginjal juga seringkali bertumpang tindih gejalanya dengan gejala-gejala pasien gagal ginjal yang mengalami uremia seperti iritabilitas, gangguan kognitif, encefalopati, akibat pengobatan atau akibat hemodialisis yang kurang maksimal (Cukor et al.2007)
Pendekatan psikodinamik pada gangguan depresi adalah suatu kondisi yang berhubungan dengan hilangnya sesuatu di dalam diri manusia tersebut. Hal ini disebut sebagai faktor eksogen sebagai penyebab depresinya. Kondisi gagal ginjal yang biasanya dibarengi dengan hemodialisis adalah kondisi yang sangat tidak nyaman. Kenyataan bahwa pasien gagal ginjal terutama gagal ginjal kronis yang tidak bisa lepas dari hemodialisis sepanjang hidupnya menimbulkan dampak psikologis yang tidak sedikit. Faktor kehilangan sesuatu yang sebelumnya ada seperti kebebasan, pekerjaan dan kemandirian adalah hal-hal yang sangat dirasakan oleh para pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis. Hal ini bisa menimbulkan gejala-gejala depresi yang nyata pada pasien gagal ginjal sampai dengan tindakan bunuh diri.
Kepustakaan mencatat bahwa tindakan bunuh diri pada pasien gagal ginjal kronis yang mengalami hemodialisis di Amerika Serikat bisa mencapai 500 kali lebih banyak daripada populasi umum. Selain tindakan nyata dalam melakukan tindakan bunuh diri, sebenarnya penolakan terhadap kegiatan hemodialisis yang terjadwal dan ketidakpatuhan terhadap diet rendah potasium adalah salah satu hal yang bisa dianggap sebagai upaya  “halus” untuk bunuh diri.
Sindrom Disequilibrium
Kondisi sindrom disequilibrium cukup sering terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisis. Hal ini biasanya terjadi selama atau segera setelah proses hemodialisis. Kondisi ini disebabkan oleh koreksi berlebihan dari keadaan azotemia yang membuat ketidakseimbangan osmotik dan perubahan pH darah yang cepat. Kondisi ketidakseimbangan ini yang membuat adanya edema serebral yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala klinik seperti sakit kepala, mual, keram otot, iritabilitas, agitasi, perasaan mengantuk dan kadang kejang. Gejala psikosis juga bisa terjadi. Sindrom disequilibrium biasa terjadi setelah 3 s.d. 4 jam setelah hemodialisis namun bisa juga terjadi 8-48 jam setelah prosedur itu dilakukan.
Demensia Dialisis
Demensia Dialisis juga dikenal dengan sebutan ensefalopati dialisis adalah sindroma yang fatal dan progresif. Pada prakteknya hal ini jarang terjadi dan biasanya terjadi pada pasien yang sudah menjalani dialisis paling sedikit satu tahun. Kondisi ini diawali dengan gangguan bicara, seperti gagap yang kemudian berlanjut menjadi disartria, disfasia dan akhirnya tidak bisa bicara sama sekali. Semakin lama kondisi ini semakin berat sampai berkembang menjadi mioklonus fokal maupun menyeluruh, kejang fokal atau umum, perubahan kepribadian, waham dan halusinasi.
Demensia dialisis disebabkan karena keracunan alumunium yang berasal dari cairan dialisis dan garam alumunium yang digunakan untuk mengatur level fosfat serum. Pencegahannya dengan menggunakan bahan dialisis yang tidak mengandung alumunium. Pada awalnya kondisi ini dapat kembali baik namun jika dibiarkan dapat menjadi progresif sampai dengan periode 1-15 bulan ke depan setelah gejala awal. Kematian biasanya terjadi dalam rentang 6-12 bulan setelah permulaan gejala.
FAKTOR PSIKOSOSIAL
Emosi
Perasaan takut adalah ungkapan emosi pasien gagal ginjal yang paling sering diungkapkan. Pasien sering merasa takut akan masa depan yang akan dihadapi dan perasaan marah yang berhubungan dengan pertanyaan mengapa hal tersebut terjadi pada dirinya. Ketakutan dan perasaan berduka juga kerap datang karena harus tergantung seumur hidup dengan alat cuci ginjal. Perasaan ini tidak bisa dielakan dan seringkali afeksi emosional ini ditujukan kepada sekeliling seperti pasangan, karyawan dan staf di rumah sakit. Kondisi ini perlu dikenali oleh semua orang yang terlibat dengan pasien.
Harga Diri
Pasien dengan gagal ginjal sering kali merasa kehilangan kontrol akan dirinya. Mereka memerlukan waktu yang panjang untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan apa yang dialaminya. Perubahan peran adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sebagai contoh seorang pencari nafkah di keluarga harus berhenti bekerja karena sakitnya. Perasaan menjadi beban keluarga akan menjadi masalah buat individu ini.
Selain itu juga pasien sering kali merasa dirinya “berubah”. Adanya kateter yang menempel misalnya pada pasien dengan dialisis peritoneal, lesi di kulit, nafas berbau ureum dan perut yang membuncit membuat percaya diri dan citra diri pasien terpengaruuh.
Gaya Hidup
Gaya hidup pasien akan berubah. Perubahan diet dan pembatasan air akan membuat pasien berupaya untuk melakukan perubahan pola makannya. Keharusan untuk kontrol atau melakukan dialisis di rumah sakit juga akan membuat keseharian pasien berubah. Terkadang karena adanya komplikasi pasien harus berhenti bekerja dan diam di rumah. Hal-hal ini yang perlu mendapatkan dorongan untuk pasien agar lebih mudah beradaptasi.
Fungsi Seksual
Fungsi seksual pada pasien yang mengalami gagal ginjal akan sering terpengaruh. Hal ini bisa disebabkan karena faktor organik ( perubahan hormonal atau karena insufisiensi vaskuler pada kasus gagal ginjal dengan diabetes), psikososial (perubahan harga diri,citra diri dan perasaan tidak menarik lagi) atau masalah fisik (distensi perut, perasaan tidak nyaman dan keluhan-keluhan fisik akibat uremmia). Masalah pengobatan yang mengganggu fungsi seksual juga bisa menjadi masalah.
INTERVENSI PSIKOSOSIAL
Intervensi psikososial harus dilakukan sedini mungkin sejak diagnosis gagal ginjal ditetapkan. Hal ini juga membutuhkan usaha yang terus menerus untuk membuatnya tetap berjalan.
Implikasi Keperawatan
Gagal ginjal kronis mempunyai karakteristik penurunan kondisi yang cepat. Bantuan keperawatan dalam bidang psikososial harus berusaha memfasilitasi penyesuaian perubahan akibat sakit yang dialami. Perawat juga perlu memperbaiki interaksi sosial dan gaya hidup dengan mencegah kondisi sakit yang lebih jauh, mengontrol gejala dan menjadikan hemodialisis menjadi bagian dari kehidupan normal sehari-hari. Pengetahuan pasien yang baik tentang penyakit yang dideritanya akan mengurangi kecemasan pasien. Hal ini yang membuat sangat penting bagi perawat untuk mempunyai keahlian dalam menyediakan informasi yang jelas demi membantu pasien untuk menentukan tujuan dari perawatan dan membantu pemecahan masalah untuk kemampuan fungsional fisik yang lebih baik.
Penilaian Kondisi
Penilaian kondisi pasien akan menentukan kebutuhan pasien, mengidentifikasi masalah dan masalah-masalah yang menjadi potensial untuk timbul serta mengumpulkan informasi untuk rencana pengobatan sehingga bantuan yang sesuai bisa diberikan. Penilaian ini berfokus pada efek sakit terhadap pasien. Beberapa informasi berguna termasuk gaya hidup, pola kehidupan sehari-hari, kekuatan kepribadian dan minat, cara adaptasi sehari-hari, pengertian akan penyakit saat ini, persepsi terhadap pengobatan yang diberikan, tekanan hidup atau perubahan belakangan ini dan beberapa masalah yang terkait dengan penyakit. Dengan mendengarkan pasien dan keluarga dalam diskusi, perawata bisa mengidentifikasi masalah-masalah psikososial yang terkait denga penyakit dan kebutuhan akan bantuan. Di waktu yang sama informasi tentang pengobatan yang dilakukan dan bagaimana kondisi harapan dari sakit yang diderita bisa dijelaskan.
Membesarkan Hati
Peran dari tenaga kesehatan adalah membesarkan hati dan jika mungkin membuat pasien mampu menerima tanggung jawab akan kesehatan dan kebahagiaan serta mampu mengisi tanggung jawab mereka di keluarga dan masyarakat. Pada kondisi ini perawat dapat membesarkan hari pasien untuk menerima keterbatasan pribadi akibat kondisi sakit dan pengobatannya. Kondisi-kondisi seperti ini yang bisa memberikan persesi positif dan pengertian di antara pasien dan petugas kesehatan.
Peningkatan Kualitas Hidup
Pasien dengan karakter dependen atau tergantung mungkin beradaptasi dengan terapi lebih mudah, namun ketergantungan yang berlebihan dapat menciptakan permintaan yang esktrim kepada pengasuh dan dapat menghambat rehabilitasi. Beberapa pasien mungkin mendapatkan “secondary gain” dari penyakit yang diderita dan beberapa yang lainnya menikmati peran menjadi pasien. Perawat dapat memfasilitasi adaptasi pasien terhadap hal-hal yang dibutuhkan sehubungan dengan perawatan dengan memaksimalkan kekuatan pasien dan mendorong pasien lebih baik lagi. Terapi yang lebih bersifat individu dan meminimalkan kompleksitasnya dapat membantu perilaku yang lebih menurut. Penilaian, edukasi, motivasi, pemberian dukungan, membesarkan hati, mengajarkan cara membantu diri sendiri dan memonitor diri sendiri akan membuat pada akhirnya peningkatan kepatuhan pasien dan pasien mampu hidup dengan kondisi kronis yang dialaminya.
Jika dalam program rehabilitasi terdapat kelompok-kelompok suportif seperti latihan fisik bersama, program edukasi bersama atau kegiatan bersama lainnya maka hal ini akan membuat pasien lebih nyaman. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan kebersamaan dengan orang yang senasib dan adanya penghargaan sosial serta apresiasi dari rekan senasib. Kegiatan ini bisa membuat isolasi pasien terhadap lingkungan berkurang. Pada akhirnya kegiatan-kegiatan ini sangat berkontribusi dengan peningkatan kepatuhan pasien dalam proses terapi.
PERAN KELUARGA
Anggota keluarga memerankan hal yang penting dalam kesejahteraan pasien. Mereka tidak boleh dikesampingkan dalam proses penanganan pasien. Perubahan pola kehidupan keluarga mungkin diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasien. Pasien dan keluarga harus dibantu untuk menceritakan perasaan mereka dalam suatu hubuungan saling percaya agar dapat menyesuaikan dengan proses adaptasi dari sakit pasien. Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa perasaan bersalah, kesedihan dan kehilangan yang sangat dan sering terjadi pada pasangan pasien.
Edukasi dan informasi yang adekuat bagi pasien dan keluarga tentang penyakit yang dialami dan perjalanan penyakit akan sangat penting dan harus dimulai sejak sebelum memutuskan untuk melakukan dialisis.
PERAN PETUGAS KESEHATAN
Petugas kesehatan yang berkecimpung dalam bidang ini, dokter spesialis, dokter jaga, perawat dan staf lainnya bisa mempengaruhi dan dipengaruhi secara negatif maupun positif jika berhubungan dengan pasien gagal ginjal. Adanya harapan hidup dengan program rehabilitasi akan membuat sikap positif dari para petugas kesehatan yang terlibat. Hal ini berhubungan dengan keteraturan berobat, latihan dan perawatan diri. Namun demikian sering terjadi petugas kesehatan menjadi sangat tidak nyaman karena perilaku yang sulit dari pasien, penurunan kondisi pasien pada pasien yang hubungan rapport telah terbina baik dan kegagalan terapi.
Terjadinya kecemasan berkaitan dengan tuntutan kerja dan distres spiritual akibat kesulitan menemukan arti atau tujuan dari kehidudapan pribadi dan profesional seringkali dikatakan oleh petugas kesehatan. Petugas kesehatan yang terlibat dalam tim bisa diberikan kesempatan untuk menilai penyebab stres, membangun ide-ide, membagikannya dengan sejawat dan menciptakan kesempatan untuk saling menghormati dan memberikan dorongan kepada anggota yang lain. Cara lain untuk mengganti perhatian dari stres ke hal lain adalah mencari hal-hal yang lucu dalam pengalaman kerja, belajar dari pasien untuk menerima keterbatasan dan untuk mengambil waktu yang sesuai lepas dari pekerjaan untuk bermain dan beristirahat.
KESIMPULAN
Perawat yang bekerja di unit gagal ginjal sering dihadapkan pada pasien yang mengalami problem psikososial dan perilaku. Membangun kemampuan untuk mengenali dan beradaptasi dengan masalah-masalah itu adalah sesuatu yang diperlukan. Sering kali intervensi psikosial tidak bekerja karena keterbatasan dari segi perawat. Untuk itu perawat diharapkan dapat belajar cara-cara mengatasi masalah psikosial yang terjadi di unitnya masing-masing baik yang dialami pasien, keluarga maupun petugas di dalam unit itu sendiri.
KEPUSTAKAAN
  • Burrows-Hudson, S., Prowant, B. American Nephrology Nurses Association Nephrology Nursing Standards of Practice and Guidelines for Care. (2005). Pp.71-72

  • Chen CK, Tsai YC, Hsu HJ, Wu IW, Sun CY, Chou CC, et al. in Depression and Suicide Risk in Hemodialysis Patients With Chronic Renal Failure. Psychosomatics 2010; 51:528–528.e6

  • Cukor D, Coplan J, Brown C, Friedman S, Cromwell-Smith A, Peterson RA, Kimmel PL. In Depression and Anxiety in Urban Hemodialysis Patients. Clin J Am Soc Nephrol 2007; 2: 484-490

  • Leung DKC. Psychosocial aspect in renal patients. Proceedings of the First Asian Chapter Meeting — ISPD. December 13 – 15, 2002, Hong Kong Peritoneal Dialysis International, Vol. 23 (2003), Supplement 2

  • Levenson JL, Owen JA. Renal and Urological Disorder in Clinical Manual of Psychopharmacology in the Medically Ill.

  • Harvey S. Mental health issues in dialysis care. Presentation 2002.
Catatan : Makalah ini dipresentasikan pada acara Jakarta Nephrology Nursing Symposium “Peran Perawat Ginjal dalam Mengoptimalkan Kualitas Hidup Pasien Dialisis” 8 Juli 2012 di Hotel Ciputra, Jakarta
1341726383350492232
Peserta Seminar Keperawatan Ginjal 8 Juli 2012 di Hotel Ciputra Jakarta (dok pribadi)

http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2012/07/08/aspek-psikososial-pasien-gagal-ginjal/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar