Halaman

Sabtu, 01 September 2012

Mengurangi Kecemasan dengan Pendekatan Spiritual

SAKIT terkadang membawa dampak hebat pada penderita, terutama penyakit-penyakit yang tergolong berat. Bukan saja rasa sakit, tetapi stres kerap pula menyertainya. Terutama pasien dengan penyakit-penyakit tertentu.

Bagaimana mengelola sakit tanpa stres? Salah satunya dengan spiritual care, menggunakan pendekatan spiritual.

Kebutuhan dasar manusia

Sakit, menurut Nani Maharany, S.Kep., Ners dari Departemen Keperawatan RS Al Islam, adalah suatu keadaan tidak menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga orang tersebut mengalami gangguan aktivitas sehari-hari, baik aktivitas jasmani, rohani, maupun sosial. Sakit dapat juga diterjemahkan sebagai sebuah keadaan penyimpangan dari status kesehatan yang mempunyai arti lebih luas dari sekadar penyakit.

Pola penyembuhan pasien selama ini biasanya lebih fokus pada penanganan penyakit secara medis. Sementara itu, pendekatan proses tenaga medis (perawat) yang lebih mengarah pada kebutuhan dasar manusia (KM) masih belum banyak diterapkan. Padahal, pendekatan proses keperawatan adalah perawat sebagai pengganti pasien, perawat sebagai penolong pasien, dan perawat sebagai partner pasien. Pendek kata, perawat berperan sebagai motivator dan edukator bagi pasien yang ditanganinya.

Diakuinya, memang belum ada standar baku pelayanan keperawatan yang berdasar pada keperawatan spiritual. Dengan demikian, perlu ada semacam buku petunjuk standar keperawatan spiritual, mengingat masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang percaya terhadap agama (apa pun itu). "Kalau di negara lain sih mungkin tidak soal, tetapi di kita sebagai masyarakat beragama sangat penting ada SOP yang mengarah lebih spesifik seperti itu,".

Sementara itu, menurut K.H. Miftah Faridl, sakit dalam pandangan Islam tidak pernah lepas dari perilaku dan perbuatan manusia. Oleh karena itu, umat Islam harus memelihara dan menjaga kesehatan serta memanfaatkan waktu sehatnya untuk melakukan hal-hal yang baik. "Makanya, orang Islam dilarang melakukan sesuatu yang dapat merugikan dan merusak diri secara fisik maupun mental," ujarnya.

Tidak dibenarkan orang Islam menghilangkan hidupnya sendiri. Begitu juga menghilangkan hak hidup orang lain. "Ini sangat tidak dibenarkan oleh Islam," tuturnya.

Cara Islam mengatur dan menjaga kesehatan, menurut Miftah, antara lain hidup selalu bersih dan gemar mewujudkan kesucian dan kebersihan. Islam juga mengharuskan umatnya makan makanan yang halal dan baik (thayyiba) serta tidak berlebih-lebihan. Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat membahayakan tubuh dan mental, menjadi bagian dari cara Islam menjaga kesehatan.

Sedangkan dari sisi psikologis, Islam mengajak umat membersihkan diri dari penyakit rohaniah seperti sombong, buruk sangka, iri, mudah sedih, selalu ragu-ragu, kikir, malas, selalu ingin dihargai orang lain, dan ingin selalu dipuji. Islam mengharuskan umatnya menjauhi zinah, liwath, dan pebuatan nafsiyah lainnya.

"Berdoa, takarub kepada Allah SWT lewat salat malam sangat dianjurkan, termasuk mengikuti nasihat-nasihat ahli di bidang kesehatan seperti dokter atau perawat," ujarnya.

Mengurangi cemas

Berdasarkan pada kebutuhan dasar manusia (KDM), selain tetap fokus pada penanganan pasien secara medis, RS Al Islam menyertainya dengan menerapkan spiritual care. Penanganan pasien sesuai dengan kepercayaan dan agama pasien sekaligus memberikan bimbingan ibadah pasien.

Direktur RS Al Islam dr. H. Dede Setiapriagung, Sp.Rad., M.H., Kes. mengatakan, spiritual care diujicobakan pada 2009 pasien yang dirawat di Ruang perawatan Firdaus III selama tiga bulan berturut-turut.

Spiritual, menurut Dede, terdiri atas dimensi eksistensional yang berfokus pada tujuan dan arti hidup serta dimensi agama yang berfokus pada hubungan dengan Tuhan. "Jadi dalam kaitan ini, pasien dan keluarga pasien diajak untuk lebih siap menerima kondisi yang sedang terjadi. Dengan tetap mengajak pasien melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai Muslim sebatas dia mampu walaupun dalam keadaan sakit," ujarnya.

Spiritual care diberikan kepada seluruh pasien. Mulai dari pasien anak-anak sampai dewasa. Dengan harapan agar mereka dapat mempersiapkan mental secara lebih awal, baik dalam menerima ujian sakit maupun kematian bila saatnya tiba.

Teknis pelaksanaan dilakukan dengan membekali perawat dan tenaga kerohanian dengan tiga buku pegangan, yakni SKP (Santunan Kerohanian Pasien), TIP (Tuntunan Ibadah Pasien), dan BSM (Bimbingan Sakaratul Maut) bagi pasien-pasien terminal. Dengan demikian, pasien akan tetap melaksanakan ibadahnya sesuai dengan ketiga buku pedoman itu walaupun mereka sedang sakit.

Untuk kunjungan dan bimbingan kerohanian ini, dilakukan dua kali dalam sehari, pagi dan sore.

Sebanyak 209 pasien yang dirawat selama tiga bulan di Ruang Perawatan Firdaus III RS Al Islam Bandung rata-rata mengalami penurunan tingkat kecemasan. Mereka dapat melaksanakan ibadah sesuai dengan kadar kemampuannya dan cenderung tenang. Mereka tidak mengalami stres (kecemasan) seperti pada pasien yang tidak termasuk pilot project program tersebut.

Cara ibadah

Sementara itu, K.H. Miftah mengatakan, banyak hal yang belum diketahui masyarakat berkenaan dengan bimbingan pasien saat sakit. Program spiritual care akan sangat membantu ketidaktahuan itu.

Pasien sakit tidak hanya harus mendapatkan petunjuk dan cara-cara pengobatan yang benar, tetapi juga bimbingan cara-cara ibadah sesuai dengan kadarnya dan zikir untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

Cara berobat yang dianjurkan Islam, kata Miftah, harus ikhlas sebagai ibadah untuk memeroleh kesembuhan, tidak boleh bukan kepada ahlinya, tidak menggunakan cara-cara dan obat yang diharamkan, tidak menggunakan mantra, tidak menyekutukan Allah SWT, tidak mengarahkan pada syirik dengan menggunakan benda-benda azimat, dan harus yakin bahwa pada hakikatnya sang penyembuh itu adalah Allah SWT.

Pasien yang sedang sakaratul maut, katanya, harus dibimbing dengan mengucapkan lafadz laa ilaaha illallah. Bila sudah meninggal, tutup badannya dengan kain, tutup mulut dan matanya apabila terbuka, taruh kedua tangannya seperti sedang salat, arahkan ke Qiblat, beritahukan keluarganya, mandikan, kafani, salatkan, lalu kuburkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar